Satu dekade telah berlalu.
Atau kalau dihitung-hitung, mungkin sekitar 3.652 hari sejak seorang pria asal Spanyol menandatangani kontrak yang pada akhirnya mengubah banyak hal. Bukan cuma untuk Manchester City, tapi juga untuk gue sebagai seorang fans yang kebetulan mengikuti semua perjalanan itu hampir dari awal.
Pria itu bernama Josep Guardiola Sala.
Atau ya, Pep Guardiola.
Kalau lu suka sepak bola, rasanya nama ini udah gak perlu dikenalin lagi. Bahkan buat yang gak terlalu ngikutin bola pun kemungkinan pernah dengar namanya. Entah karena trofinya, gaya main timnya, atau karena setiap beberapa bulan sekali pasti ada aja eksperimen aneh yang dia lakukan dan entah kenapa berhasil.
Jujur aja, kalau gue disuruh menyebut satu sosok yang paling berpengaruh di sepak bola dalam satu dekade terakhir, nama pertama yang muncul di kepala gue ya Pep Guardiola.
Dan kebetulan, dia datang ke klub yang gue dukung.
Musim 2016/17.
Waktu itu gue masih cukup muda, Manchester City juga belum seperti sekarang. Mereka memang sudah punya gelar Premier League, sudah punya pemain-pemain bagus, sudah punya dukungan finansial yang luar biasa besar, tapi entah kenapa rasanya City masih belum benar-benar dianggap seperti sekarang.
Lalu datanglah Pep.
Dan jujur aja, waktu itu gue gak nyangka.
Pep Guardiola yang baru selesai melatih Bayern Munich, Pep Guardiola yang sebelumnya membuat Barcelona menjadi salah satu tim terbaik sepanjang masa, Pep Guardiola yang bisa saja memilih hampir klub mana pun di dunia, tiba-tiba memilih Manchester City.
Kalau dipikir-pikir sekarang mungkin terdengar biasa.
Tapi tahun 2016? Gila sih.
Banyak yang bilang Premier League bakal jadi tantangan terberat Pep. Gaya mainnya dianggap terlalu rumit. Terlalu mengandalkan possession. Terlalu "continental". Banyak yang merasa sepak bola Inggris tidak akan cocok dengan apa yang selama ini dia lakukan di Barcelona maupun Bayern.
Dan jujur, musim pertamanya memang gak berjalan mulus.
Gak ada trofi.
Kalah dari Monaco di Champions League.
Kalah dari Arsenal di FA Cup.
Kalah dari United di EFL Cup.
Bahkan buat ukuran Pep, musim itu bisa dibilang gagal.
Tapi lucunya, sekarang kalau melihat ke belakang, musim gagal itu justru terasa seperti trailer sebelum film utamanya dimulai.
Karena setelah itu semuanya benar-benar berubah.
Centurions.
Treble.
Champions League pertama.
Empat gelar Premier League beruntun.
Dan puluhan rekor lain yang mungkin kalau ditulis satu per satu bakal jadi artikel tersendiri.
Tapi makin ke sini gue sadar, hal paling gila dari Pep sebenarnya bukan jumlah pialanya.
Karena piala pada akhirnya cuma angka.
Yang lebih gila adalah bagaimana dia mengubah persepsi orang terhadap Manchester City.
Dulu City sering jadi bahan bercandaan. Dibilang klub uang. Dibilang gak punya sejarah. Dibilang cuma lewat karena kebetulan lagi kaya.
Sekarang?
Orang mungkin masih bilang begitu.
Tapi mereka juga gak bisa mengabaikan fakta bahwa Manchester City adalah salah satu tim terbaik di dunia dalam satu dekade terakhir.
Dan menurut gue, perubahan cara pandang itu jauh lebih sulit dibanding memenangkan trofi.
Gue merasa cukup beruntung bisa menyaksikan semua itu.
Karena awal gue suka Manchester City pun sebenarnya sederhana.
Sergio Aguero.
Entah kenapa gue langsung suka sama pemain ini.
Sampai-sampai waktu SD dan SMP dulu nickname gue adalah Kun Fauzi atau kunfaz, diambil dari Kun Aguero. Kalau dipikir sekarang sih agak lucu juga.
Tapi dari situ semuanya dimulai.
Dari Aguero.
Dari City.
Sampai akhirnya datang Pep.
Dan tanpa sadar, sepuluh tahun berlalu begitu aja.
Mungkin ini yang paling bikin gue aneh sampai sekarang.
Karena rasanya baru kemarin ngelihat Kevin De Bruyne masih kasih umpan manja khatulistiwa membelah lautan, Aguero masih jadi striker utama, Vincent Kompany masih jadi kapten, dan Guardiola baru datang ke Inggris.
Tahu-tahu sekarang gue udah kerja.
Tahu-tahu beberapa pemain itu udah pensiun atau main di tim lain.
Tahu-tahu kontrak Pep juga tinggal hitungan hari.
Waktu memang aneh.
Dan mungkin karena itu gue agak susah menerima kenyataan bahwa era ini benar-benar akan berakhir.
Karena buat gue pribadi, Manchester City sekarang sudah terlalu Pep.
Gue bahkan gak bisa membayangkan siapa yang bisa menggantikannya.
Bukan karena gak ada pelatih bagus di luar sana.
Tapi karena selama sepuluh tahun terakhir, Pep bukan cuma melatih Manchester City.
Dia adalah Manchester City.

Gue selalu mengagumi Pep, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Di dalam lapangan, menurut gue dia adalah tactical mastermind. Tipe orang yang mungkin overthinking soal sepak bola 24 jam sehari. Kadang gue sampai mikir apakah orang ini benar-benar bisa tidur dengan tenang atau enggak.
Tapi mungkin justru karena itu dia bisa berada di level yang sekarang.
Di luar lapangan pun gue cukup respect sama dia. Terlepas setuju atau tidak dengan semua pandangannya, Pep selalu terlihat sebagai orang yang berani menyampaikan apa yang dia yakini.
Dan gue rasa itu gak mudah.
Apalagi ketika posisi dan pengaruh lu sebesar dirinya.
Jadi ya, mungkin tulisan ini bukan cuma tentang sepak bola.
Ini bukan cuma tentang trofi.
Ini bukan cuma tentang Manchester City.
Tapi tentang satu dekade yang kebetulan gue habiskan sambil menonton orang yang sama berdiri di pinggir lapangan setiap akhir pekan.
Dari bocil sampai sekarang.
Dari sekolah sampai kerja.
Dari Aguero sampai Haaland.
Dari mimpi Champions League sampai akhirnya benar-benar mengangkat trofi itu.
Kalau dipikir-pikir, satu dekade pertunjukan ini mungkin memang akan selalu jadi salah satu core memory terbesar dalam hidup gue.
Setelah ini?
Jujur aja gue juga gak tahu.
Mungkin gue bakal overthinking soal masa depan Manchester City.
Mungkin gue bakal skeptis sama siapa pun penggantinya.
Tapi kalau ada satu hal yang gue pelajari dari era ini, fondasi yang kuat biasanya gak dibangun untuk satu orang saja.
Dan kalau memang semua yang ada di klub ini dibangun dengan benar, seharusnya perjalanan ini gak berhenti ketika Pep pergi.
Walaupun ya… tetap aja rasanya aneh.
Jadi untuk terakhir kalinya dalam era ini.
Terima kasih Pep.
Terima kasih Manchester City.
Terima kasih Aguero.
Dan terima kasih untuk satu dekade yang luar biasa ini.
Pep Guardiola.
01/07/2016 - 30/06/2026.
City Till I Die.
