AI, a.k.a. artificial intelligence atau ei-ai, sekarang sudah bukan hal asing lagi dalam kehidupan sehari-hari. Rasanya semuanya mulai melibatkan AI. Dikit-dikit tanya AI, dikit-dikit pakai AI, sampai akhirnya banyak orang mulai terbiasa dan bergantung pada kehadiran AI yang fiturnya semakin memanjakan penggunanya.
Tapi apakah menggunakan AI itu salah?
Pada awalnya, banyak orang berpikir demikian. Bahkan mungkin sampai sekarang masih ada yang menolak keras hadirnya AI karena takut manusia menjadi malas, kreativitas menghilang, atau semuanya menjadi terlalu instan. Dan jujur, gue cukup mengerti kenapa banyak orang berpikir seperti itu. Tapi pada saat yang sama, bukannya AI ini juga terasa menyenangkan?
Kalau kata Bernadya, kita buat menyenangkan… dan mungkin AI memang terasa menyenangkan ketika digunakan dengan cara yang tepat.
Sekarang seseorang bisa dengan mudah mengakses, membuat, dan melakukan berbagai hal berkat AI. Hal-hal yang sebelumnya terasa sulit kini menjadi lebih mudah dilakukan. Ada yang menggunakan AI untuk belajar, bekerja, mencari ide, brainstorming, bahkan sekadar membantu menuangkan isi pikiran yang sulit untuk dijelaskan.
Sebagai seseorang dengan background software engineer dan product designer, gue cukup ngerasain gimana AI benar-benar membantu proses kerja gue. Dulu, untuk membuat sebuah aplikasi, gue perlu melewati proses yang lebih panjang. Mulai dari mencari referensi, menyusun flow, mendesain tampilan, hingga mengembangkan aplikasi tersebut satu per satu dengan effort yang tidak sedikit. Sekarang, banyak proses bisa dilakukan lebih cepat berkat bantuan AI. Gue bisa lebih mudah mengeksplorasi ide, mempercepat proses desain, membantu development, brainstorming copywriting, hingga diskusi banyak hal dalam waktu yang jauh lebih singkat dibanding sebelumnya.
Dan jujur aja, gue termasuk salah satu orang yang cukup mendukung AI karena memang sangat membantu produktivitas gue sehari-hari. Bahkan bukan cuma soal kerjaan, terkadang AI juga terasa menghibur. Konten AI yang muncul di reels atau fyp sering kali terasa lucu, absurd, dan menarik untuk dilihat.
Walaupun begitu, gue juga cukup kritis dan skeptis terhadap banyak hal tentang AI saat ini. Terutama fenomena AI slop atau konten generate yang terasa asal jadi, repetitif, anomali, dan perlahan membuat feeds dipenuhi sesuatu yang sampah. Semua terasa terlalu mudah dibuat, tapi tidak semuanya benar-benar berkualitas.
Dan kalau dipikir-pikir, perkembangan AI sekarang juga terasa sangat gila. Hampir setiap bulan selalu ada model baru, update baru, atau fitur baru yang membuat semuanya terasa makin cepat berubah. Persaingan antara GPT dan Codex misalnya, terasa seperti perlombaan membuat model yang semakin cerdas dengan spesialisasinya masing-masing. Belum lagi agentic IDE yang mulai ramai, seperti Codex dan Antigravity dari Google. Dunia development sekarang rasanya benar-benar berubah.
Di sisi desain juga tidak kalah menarik. Claude Design sempat ramai dibicarakan karena kepintarannya, sampai-sampai banyak orang mulai menyandingkannya dengan Figma, bahkan menyebutnya lebih baik dan lebih cerdas. GPT Image juga sekarang terasa semakin mutakhir. Bahkan, psst, cover thumbnail post ini juga hasil generate GPT, hehe.
Belum lagi persaingan harga model-model AI dari negeri jiran seperti DeepSeek yang sempat memberikan harga agresif lalu dibalas lagi oleh Xiaomi MiMo. Semuanya seolah berlomba menjadi yang paling murah, paling cepat, dan paling cerdas.
Dan menariknya, semua ini terjadi bersamaan dengan munculnya kultur baru di dunia AI. Sekarang orang-orang mulai bermain dengan OpenClaw, Hermes, dan model-model lain lewat VPS untuk automasi, self-hosting, eksperimen workflow, sampai membuat agen mereka sendiri. Hal-hal yang dulu terasa sangat teknis sekarang perlahan mulai lebih mudah diakses oleh banyak orang. Era sekarang benar-benar berubah sangat pesat.
Tapi di tengah semua hal menyenangkan itu, kadang gue juga mulai kepikiran soal trade-off dari semua kenyamanan ini. Masa iya teknologi se-powerful ini hadir tanpa ada sesuatu di baliknya? Atau memang ini bentuk kebaikan dari para tech company untuk kita semua? Atau justru ada hal lain yang berjalan bersamaan dengan semua kenyamanan tersebut?
Gue juga sering kepikiran soal privasi. Sekarang kita sangat mudah memberikan data, kebiasaan, cara berpikir, bahkan isi kepala kita kepada AI. Dan tanpa disadari, semua itu terus dipelajari setiap hari. Belum lagi soal ketergantungan. Semuanya kini terasa ingin serba instan. Tinggal tanya, tinggal generate, lalu jadi.
Dan mungkin tanpa disadari, hal itu perlahan membuat manusia kehilangan proses berpikir dan rasa penasaran untuk memahami sesuatu secara utuh.
AI juga mulai terasa tidak menyenangkan ketika digunakan untuk hal-hal yang jelas bertentangan dengan tujuannya yang positif. Mulai dari penipuan menggunakan face swap, tiruan suara, manipulasi gambar atau video, hingga hal-hal lain yang membuat manusia semakin sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang palsu. Tapi mungkin semua itu sebenarnya sudah bisa diprediksi sejak awal. Karena ketika ada teknologi yang membawa banyak dampak positif, pasti akan ada sisi negatif yang ikut muncul.
Dan ada satu hal lain yang terkadang membuat gue berpikir lebih jauh. Bagaimana jika suatu hari akses terhadap AI ini tiba-tiba dibatasi, dihentikan, atau tidak lagi semudah seperti saat ini? Seberapa siap manusia untuk kembali melakukan semuanya tanpa bantuan AI?
Karena jujur aja, banyak dari kita sekarang sudah terlalu nyaman. AI perlahan memanjakan manusia dalam banyak hal. Mulai dari berpikir, mencari ide, menyelesaikan pekerjaan, bahkan mengambil keputusan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Lalu bagaimana jika semua kenyamanan itu tiba-tiba hilang? Apakah kita semua masih mampu berdiri dengan kemampuan aslinya sendiri, atau justru sudah terlalu bergantung pada sesuatu yang sebelumnya bahkan tidak pernah dibutuhkan?
Namun, pada akhirnya, semua hal ini tentu kembali pada pribadi masing-masing. AI bisa menjadi sesuatu yang sangat membantu, tapi juga bisa menjadi sesuatu yang perlahan membuat kita terlalu bergantung jika tidak digunakan dengan bijak. Menurut gue, AI tetap paling baik diposisikan sebagai alat bantu, bukan sesuatu yang membuat manusia berhenti berpikir sendiri.
Karena yang paling penting bukan cuma seberapa canggih AI itu, tetapi seberapa bijak kita menggunakannya. Jangan sampai kita merasa sedang memanfaatkan AI, padahal tanpa sadar justru kita yang sedang dimanfaatkan.
